Seni Tradisional Warisan Leluhur Jaman Dahulu Yang Hampir Punah

Agustus 31, 2018
Sahabat GHIACOM TV, Seni tradisional yang berkultur masyarakat agraris, diantaranya yaitu seni tutunggulan. Seni tunggualan masih bertahan keberadaanya di Kampung Cilangkap Desa Manyeti  Kecamatan Daeian Kabupaten Subang. Alat yang digunakan dalam seni tutunggulan adalah halu (alu) dan lisung (lesung).

Kata tutunggulan, berasal dari kata nutu (menumbuk). Nutu itu sendiri adalah kegiatan atau pekerjaan menumbuk gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Nutu biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara empat sampai enam orang dan ayunan halu yang saling bergantian mengenai bagian lisung sehingga menimbulkan suara/bunyi. Dan itu menjadi bagian hiburan ibu-ibu untuk menghilangkan rasa lelah selama nutu.

Sebelum tutunggulan berkembang menjadi sebuah kesenian, Tutunggulan digunakan sebagai alat untuk memanggil warga supaya menghadiri acara pertemuan di kampung tersebut. Tutunggulan juga dimainkan jika terjadi samagaha (gerhana) bulan atau matahari.

Dari kebiasaan itulah, akhirnya muncul seni tutunggulan, hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan halu-nya ke lisung. Dari ayunan halu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya.


Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔